Selasa, 24 Juli 2012

Prilaku Masyarakat Dalam Puasa Ramadhan

Puasa adalah ibadah menahan segala yang membatalkan dari semenjak terbit fajar (imsak) hingga terbenam matahari (maghrib). Pelaksanaan Puasa ada yang merupakan kewajiban, ada yang sunat dan ada yang makruh/haram. Puasa sebagai kewajiban adalah puasa nazar dari seseorang, puasa dam (pengganti dari puasa wajib yang tidak dikerjakan pada waktunya dan puasa ramadhan. Puasa sebagai sunat yang boleh dikerjakan dan boleh tidak dikerjakan termasuk misalnya puasa senin kamis, puasa di awal bulan syawal, puasa di pertengahan bulan rajab, puasa menjelang hari raya qurban. sedangkan puasa yang dilarang melaksanakannya baik karena makruh atau pun haram, diantaranya adalah puasa pada hari assyura, puasa pada hari sabtu diluar bulan ramadhan, puasa pada hari tasyri' (hari pelaksanaan ibadah haji pada bulan zulhijjah,), puasa pada hari selain dari puasa wajib dan sunat.

ibadah puasa ramadhan setiap tahun dilaksanakan. melihat kenyataan prilaku masyarakat dalam menghadapi, menjalani dan mengakhiri ibadah ramadhan perlu dikoreksi dan telaah kembali. persoalaannya adalah karena prilaku yang ditunjukan merupakan bentuk dari prilaku islam formalitas (istilah ini dipopulerkan oleh nurcholis madjid sebagai padanannya adalah islam substantif), atau bentuk dari islam abangan, islam simbolis.
setelah ramadhan berlalu watak islam formalitas, abangan, simbolik tersebut berpotensi menjadi prilaku jahiliyyah..
apa itu islam formalitas? islam formalitas adalah menjalankan islam dalam bentuk sekadar mengikuti tata cara; basa-basi: (http://www.artikata.com/arti-327337-formalitas.html). dalam hal ini prilaku islam formalitas sangat berdekatan dengan istilah taklid buta. yakni mengikuti sesuatu atas dasar kebiasaan orang banyak, bukan atas dasar kesadaran yang dibentuk oleh ilmu dan keyakinan. bahasa kasat matanya  adalah orang puasa dia puasa, orang sholat dia sholat..dalam keseharian prilaku seperti ini nampak sholeh tapi sebenarnya tak bermakna. ruh dari ibadah itu tidak mewarnai kehidupannya.  dalam kaitannya ini pula prilaku islam formalitas berdekatan sebenarnya dg istilah sekuler. lebih jauh islam formalitas mementingkan simbol, upacara, dan ritus. termasuk dalam masalah politik kenegaraan, bagi islam formalitas yang penting simbol negara islam, tetapi subtansi dari negara islam mereka tidak mengerti.
kembali kepada masalah prilaku masyarakat, mengacu kepada pengertian formalitas di atas, maka apa yang kita lihat dalam kehidupan beragama masyarakat khususnya ibadah puasa ramadhan sebenarnya mencerminkan islam formalitas tersebut.
bentuk nyata perilaku islam formalitas tersebut adalah puasa ramadhan sudang bergeser makna menjadi ritual, upacara dan budaya semata. meskipun dalam hal kekuatan perwujudan amalan nantinya juga menuntut kebiasaann dalam kehidupan dan membudaya dalam diri seorang muslim. tapi kebiasaan ritual yang dianggap budaya adalah keluar dari tujuan pelaksanaan ibdah itu sendiri.
berapa banyak orang islam yang terjebak dengan ritual balimau, mandi bersama ke tempat umum apakah di sungai, laut, kolam dan danau. perilaku mubazir di saat berbuka dan sahur, dana lainnya.
bisa dbuktikan sendiri dg satu pertanyaan acak kepada seorang muslim apa dasar mereka berpuasa/ apa hakikat puasa dalam islam? mereka akan menjawab itu sudah sebagaiamana orang-orang dahulu melaksanakannya.
islam yang sejatinya memberikann keindahan dan keagungan melalui ajarannnya, telah direduksi menjadi tradisi yang keliru. islam mengajrakan kesedrhanaan, kelembutan dalam menjalankan puasa berubah menjadi wajah-wajah sangar, rakus dan lapar. tidak salah sebenarnya dulu pernah akda kartun di koran kompas yang menggambarkan muslim seumpamam seekor babi yang berlomba di lintasa menuju finis berbuka menghadapi makanan lezat dan mewah. secara etika dan semangat tolrasni tentu kartun tersebut sangat salah dan patutu dihukum pembuatnya. tapi sebagai instrospeksi ada benarnya maksud dari kartun tersbut. apalgi sekarang islam berubah menjadi garang oleh kelompok yang mengaku pembela agama. mereka melakukan intimidsai dan kekersaan terhadap umat lain dan orang lain yang dianggap mengganggu ibadah puasa. dari segi ekonomi misalnya biaya hidup orang islam yang berpuasa meningkat tajam akibat perilaku konsumtif selama bulan puasa. dan gejolak inflasi pun tak terhindarkan meski sibantah oleh pemerintah.
akibat dari prilaku masyakarakt yang formalitik tersebut adalah puasa menjadi hilang makna, puasa hanya sebatas menahan lapar dan dahaga belaka. padahal tujuan mulia dari puasa ramadhan diantarnya adalah menjadi pelatiha untuk kehidupan 11 bulan yang berikutnya.
prilaku islam formalitas tidak sebatas dalam tataran politik tetapi kini telah merambah pada tataran ibadah mahdhah. berdaarkan uraian di atas paling tidak ada beberpa bentuk prilaku masyarakat dalam puasa ramadhan yang perlu dibenahi.
1. prilaku taqlid buta.
secara fiqih sebagian ulamma membenarkan adanya taklid yang bermakna mengikuti suatu paham yang tidak diketahui bagaimana duduk perkara paham tersebut. kebolehan diberikan pada batas ke awaman atau tingkatan masih belajar islam. tetapi bagi yang telah berakal dan berpendidikan, taklid tidak mesti melekat dalam ibadah mereka. seharunya mereka belajar tentang apa yang tercantum dalam ajaran agama minimal mengetahui dasar ajran tersebut. perilaku taklid ini membahayakan dan mudah sekali terjadi benturan dalam masyarakat. contohnya adalah perilaku penentuan awal ramadhan. hanya ikut dan manut saja tanpa mengetahui perbedaan dalam penetapan awal puasa ramadhan. perilaku taklid menggiring untuk menyalahkan orang lain yang berbeda  dan memebenrkan pendapat secara membabi buta. bahkan mudah untuk menkafirkan orang yang berbeda.
2. perilaku konsumtif.
perilaku ini bentuk dari kerakusan, tamak yang sebenarnya adalah perilaku arab jahiliyyah yang ditentang oleh islam. islam memandang harta, makanan dan alat hidup lainnya sebagai sarana untuk beribdah bukan sebagai tujuan.dampak dari perlaku konsumtifa adalah materialisme menjadi subur. semua diukur oleh materi.
harga melambung tinggi karena materialisme berada dalam pikiran masyarkat. lihatlah menjelang hari raya, hakikat puasa yang semakin ke ujung bulan adalah semakin dekat dg ibadah seperti iktikaf, tapi kenuyataan adalah semakin dekat  masyarakt dg pasar untuk mendapatkan keinginan nafsu konsumtif seperti pakaian, barang rumah tangga dan lain-lain. dan sudah pasti kemubaziran terjadi. pemborosan terjadi. dan kesedrehanaan semkain jauh.
3. perilaku islam hipokrit/ split personality/kepribadian ganda.
banyak yang mengaku islam menjlankan puasa tapi sholat tidak. banyak yang berpuasa tapi bersedekah tidak. bahkan ciri dari hipokrit sangat kentara sekali di saat pertenghan dan akhir ramadhan. masjid sudah lengang..pasar mulai ramai. puasa menemui anti klimaks. wajar saja keindahan dan keagungan puasa tercerabut seketika setelah ramadhan usai. itulah dampak dari hipokrit. dalam bahasa agama disebut munafik. mereka di satu sisi menjalankan silam tapi di sisi lain menjalankan selain islam.
puasa iya tapi korupsi terus, puasa iya tapi setengah saja. islam iya tapi membaca alquran tidak pernah apalagi mau mempelajari agama.

Jika hal ini tidak disadari sebagai kekliruan, mustahil kita mewujudkan pribadi muslim yang taqwa sebagaimana tujuan dari pelaksanaan puasa itu sendiri.
kembalilah kepada prilaku Nabi Muhammad saw dan generasi awal islam dalam menjalakan ibadah puasa. bagaimana nabi mengisi waktu di bulan ramadhan, bagaimana teladan nabi dalam kesantunan, kesederhanaan dan kelembutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar